Top Ad unit 728 أ— 90

Catatan Peserta 212 "Satu Jam yang Memutus Kami dari Dunia Luar"

Aksi Bela Islam jilid 3 yang berlangsung di Monumen Nasional, Jumat (2/12/2016) kemarin adalah peristiwa hati. Mengikuti aksi ini artinya ada kesan yang mendalam yang tak bisa digantikan oleh apapun sekalipun hanya receh Rp500 ribu.

Hal itu pula yang dirasakan oleh Abu Qawwam, satu dari sekian juta peserta Aksi Super Damai 212. Ia mengungkapkannya lewat kalimat indah berikut, tentang hujan.

----

Kata Ajengan saya di pesantren, dalam kesusasteraan Arab, hujan itu adalah perlambang cinta dan kedermawanan.
.
Jika mereka membuat puisi tentang awan mendung, maka maksudnya adalah hati yang sedang berbunga-bunga.
.
Ketika gerimis mulai turun, maka itu adalah tentang cinta yang tercurah dari kerinduan yang terpendam.
.
Dan hujan deras, adalah ungkapan untuk kaum dermawan. Tentang raja-raja yang melimpahkan harta dan kebaikannya untuk kemakmuran segenap rakyat.
.
Lalu Islam menguatkan itu semua.
Firman Allah dan sabda Rasul menegaskan bahwa hujan adalah rahmah.
Kasih sayang.
Cinta.
Negeri yang dicurahi hujan adalah negeri yang diberkahi.
Ummat yang dilimpahi hujan adalah ummat yang disayangi.
.
*
.
Kita di Indonesia memahami hujan dengan sedikit berbeda. Seringkali berlawanan dengan pemahaman di atas. Mungkin karena di negeri ini hujan biasa turun sepanjang tahun. Bahkan di musim kemarau, ketika hampir seluruh wilayah dilanda kekeringan, ada saja satu dua daerah yang tertimpa bencana banjir.
.
Maka hujan seringkali dirasa merepotkan.
Seringkali dianggap sebagai bencana.
Tidak heran jika lisan orang Indonesia sering mengucapkan kalimat pesimisme, “Yah, hujan…” dengan raut wajah tidak suka.
Dan hujan, dalam anggapan banyak orang, adalah cara paling efektif untuk mengusir sebuah kerumunan masa.
.
*
.
Lalu datanglah hari itu: Jum’at 212. 
.
Sedari pagi, banyak peserta Aksi Bela Islam yang berharap agar hujan tidak turun. Mendung sedikit saja menjadi bahan perhatian serta kewaspadaan. Payung, jas hujan, plastik, semuanya disiapkan di dalam tas, sambil berdo’a dalam hati agar hujan tidak turun.
.
Lalu bergulirlah aksi itu. Kaum muslimin tumpah ruah di pusat kota, duduk berbaris dalam jutaan hamparan sajadah. Menggelorakan takbir dan menggemakan puja puji kepada Allah.
.
Sedari pagi langit bersikap seperti layaknya seorang sahabat. Biru cerah dengan sedikit pulasan awan-awan putih. Kadangkala matahari nampak, lalu sembunyi lagi. Angin semilir berembus menerpa jutaan wajah. Diselingi gerimis lembut yang menyegarkan suasana pagi.
.
Beranjak siang, cuaca mulai hangat. Satu demi satu para ulama mengaduk-aduk perasaan jamaah dalam suasana hati yang bercampur baur.
Tertawa bahagia
Menangis tersedu
Semangat menggelora
Lemah di hadapan Sang Maha Kuasa
Tercabik perasaan berdosa
Lirih dalam taubat.
.
Para ulama memainkan perannya dengan sangat baik. Setiap orang berada di posisi yang tepat. Kalau kata Aa Gym, seperti gabungan bahan bangunan yang akan saling mengokohkan ketika digunakan dengan cara dan takaran yang benar.
.
Di saat itulah, seorang bapak polisi bersuara indah mengumandangkan adzan jum’at yang menggema ke seluruh sudut kota. Semua orang hanyut dalam diam. Mendengarkan lantunan merdu itu dengan suasana hati yang tenang dan damai. Di bawah naungan teduh awan mendung yang menyejukkan hati dan kepala.
.
*
.
Lalu satu persatu tetesan air hujan jatuh ke tubuh kami.
Dengan cara yang sangat halus, lembut dan manis.
Tidak ada gelegar petir sama sekali.
Tidak ada satupun sambaran kilat.
Tidak juga tiupan angin kencang.
Hujan hanya turun begitu saja.
Dengan ritme yang perlahan tapi pasti makin deras
Membasuh tanah serta tubuh-tubuh yang kelelahan.
.
KETAHUILAH BAHWA ITU
ADALAH SATU JAM YANG AJAIB.
.
Satu jam itu adalah satu jam yang hening dan sunyi.
Satu jam yang memutus kami dari dunia luar.
Tidak ada satupun jama’ah yang bersuara.
Tidak ada satupun jama’ah yang memegang ponselnya.
Tidak ada satupun jama’ah yang berselancar di dunia maya.
Tidak ada satupun jama’ah yang berfoto dengan riangnya.
Hanya sunyi.
Hanya hening.
Setiap orang tenggelam dalam kesyahduannya masing-masing.
.
Tubuh kami basah kuyup disiram rahmat Allah yang tercurah dari langit
Telinga kami terbuka lebar untuk mendengarkan rangkaian kata demi kata dari Khotib
Kemudian meresap ke dalam hati yang seakan diliputi cahaya.
.
Itu adalah satu jam yang hening di bawah siraman hujan. Hanya terdengar suara menggelegar Khotib kami. Dihiasi isak tangis dari sebagian jama’ah. Larut dalam sebuah pengalaman spiritual yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
.
Itu adalah satu jam yang hening di bawah siraman hujan. Hanya tedengar suara khusyu’ Imam kami. Yang membaca Al-Maidah dengan tempo yang tartil, menenggelamkan jama’ah dalam lautan keimanan. Hanyut oleh alunan do’a qunut yang menggetarkan.
.
*
.
Saya menduga, hampir tidak ada jama’ah Sholat Jum’at yang mengabadikan moment puncak itu dalam rangkaian foto atau video. Tapi setiap orang menyimpannya dalam ingatan. Mematri di dalam hati.
.
Saya hanya ingin menyampaikan kepada semua orang yang tidak hadir dalam suasana haru di siang itu, namun hatinya dipenuhi kedengkian,
.
“Seberapa sering kita melaksanakan ruku’ dan sujud di lapangan terbuka, bersama juta’an ummat, di bahwah siraman hujan, mengaminkan lantunan do’a qunut untuk kebaikan kaum muslimin?”
.
Prasangka buruk apapun yang anda miliki tentang momen ini.
Ucapan buruk apapun yang ingin anda katakan tentang aksi ini.
Tindakan tandingan apapun yang anda lakukan untuk menyainginya.
Tidak akan mengubah perasaan dan keyakinan apapun di dalam hati kami.
.
Satu jam pengalaman spiritual ini terlalu mahal untuk digantikan oleh apapun.
Satu jam yang terlalu kokoh untuk dirusak oleh sekadar prasangka, celaan dan kedengkian.
Karena Allah telah menganugerahkan kenikmatan tiada tara.
Lewat curahan hujan rahmat yang luar biasa.
.
Kalaupun ada kalimat yang mampu mewakili perasaan ini, maka itu adalah ungkapan Sayyid Qutub dalam muqaddimah Fi Zhilalnya:
.
“Hidup di bawah naungan Al-Qur’an adalah kenikmatan.
Nikmat yang tidak akan bisa dimengerti
Kecuali oleh orang yang merasakannya.
Nikmat yang mengangkat harkat usia.
Memberkahinya.
Serta menyucikannya...”


[Paramuda/BersamaDakwah]

Catatan Peserta 212 "Satu Jam yang Memutus Kami dari Dunia Luar" Reviewed by Ganda Pahlawan on 15.51 Rating: 5

Tidak ada komentar:

© Bersamadakwah.net - BedaMedia Grup

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.