Top Ad unit 728 أ— 90

FPI Beberkan 9 Klu Siapa Pemantik Perpecahan di Negeri Ini

Disadari atau tidak disadari, umat Islam seakan "dikerjai" sekelompok orang. Tudingan bermacam-macam pun diarahkan. Mulai dari pemecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia,  anti Bhinneka Tunggal Ika, intoleransi dan lain sebagainya.

Dewan Pengurus Pusat Front Pembela Islam pun membeberkan melalui 9 klu tentang siapa yang menjadi pemantik perpecahan negeri ini.

1. Ketika Ulama dakwahkan haram Muslim pilih pemimpin kafir, tetiba ada Non Muslim berkata "Jangan mau dibohongi pakai Al-Maidah" Ini Penistaan

2. Ketika Ulama fatwakan haram Muslim pakai atribut Non Muslim, tetiba Ulama dituduh anti kebhinekaan, anti Pancasila. Ulama pun dihina-hina.

3. Lalu ketika ada Ulama dakwahkan ajaran Al-Quran "Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan" Tetiba ulama dilaporkan ke Polisi. Penistaan tuduhnya.

4. Luar biasa mereka, jadi Ulama-ulama yang dakwahkan ajaran Islam sesuai Kitab Suci dicap bohong, menista agama lain, lalu seenaknya dihina-hina.

5. Ulama yang dakwahkan tentang kepemimpinan, atribut keagamaan maupun tentang teologi, semua berdasar ajaran Kitab Suci untuk menjaga akidah umat Islam.

6. Ulama menjaga akidah umat agar senantiasa lurus sesuai petunjuk agama. Tidak melenceng, tidak tersesat. Karena memang itulah tugas mulia para Ulama

7. Kini,  mulai muncul manusia-manusia berhati busuk yang rupanya tidak suka lihat Indonesia damai, yang tidak suka melihat antar Umat Beragama damai.

8. Mereka mulai ikut campur urusan internal umat Islam. Merecoki ajaran Islam. Nista Kitab Suci. Bahkan hina dan rendahkan Ulama umat Islam.

9. Jadi jelas sebenarnya siapa yang Intoleran, yang tidak bisa menghargai kerukunan beragama, dan jelas pula siapa pemantik perpecahan di negeri ini. [Paramuda/BersamaDakwah]

FPI Beberkan 9 Klu Siapa Pemantik Perpecahan di Negeri Ini Reviewed by Ganda Pahlawan on 22.53 Rating: 5

Tidak ada komentar:

© Bersamadakwah.net - BedaMedia Grup

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.