Putri Bungsu JK Tentang Fitnah Bakar Gereja dan Pembantaian Tionghoa 1997

- Mei 16, 2017
Path Chairani Kalla
Pada hari ulang tahun Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK), Senin (14/5/2017) kemarin, putri bungsu JK Chairani Kalla mengungkapkan kebanggaannya terhadap sang ayah. Chairani, begitu akrab disapa, juga menuturkan fitnah yang pernah diluncurkan kepada JK.

"Baru-baru ini yang paling parah adalah ada yang memfitnah dirinya semasa muda pernah membakar gereja. Astagfirullah, kenapa ya ada sekelompok orang yang tega membuat berita seperti itu?"  begitu kutipan curahan hatinya melalui akun media sosial Path.

Berikut curahan hatinya secara lengkap

---


Ya ini ayah saya, yang juga kebetualn Wakil Presiden RI. Orang yang paling saya banggakan di dunia ini. Mungkin sebagian orang yang membaca ini akan berpikir "Ya jelas lah dibanggakan, ya namanya juga ayah sendiri".

Ayah saya adalah sosok pemberani. Ia dikenal sebagai salah satu pejabat yang tidak takut pada siapapun, bahkan sebagian orang menganggapnya terlalu berani dalam bertindak atau berucap. Makanya banyak juga yang tidak suka dengannya karena sikap terlalu beraninya itu. 

Beliau juga tidak suka berbasa-basi dan tidak suka pencitraan. Apapun yang menurutnya benar untuk kepentingan negara ini, akan disampaikannya ke publik tanpa takut akan ada segelintir golongan yang tidak suka kepadanya.

Kalimat-kalimat yang pernah diucapkannya sering dipelintir oleh orang yang tidak menyukainya. Contohnya saat ini ia sedang diserang fitnah mengenai dirinya yang tidak toleransi terhadap umat bergama. 

Baru-baru ini yang paling parah adalah ada yang memfitnah dirinya semasa muda pernah membakar gereja. Astagfirullah, kenapa ya ada sekelompok orang yang tega membuat berita seperti itu? Justru yang paling menempel di ingatan saya adalah sewaktu timpul kerusuhan pembantaian kaum Tionghoa di Makassar tahun 1997, Ayah saya mempersilakan rumah kami di Makassar dijadikan sebagai tempat persembunyian para tetangga kami yang kebetulan mayoritas orang Tionghoa. Saya saksinya ketika tetangga kami diam-diam masuk bersembunyi di rumah kami karena ketakutan akan diganyang oleh masyarakat.

Beberapa kali saya minta ayah saya untuk mengklarifikasi fitnah-fitnah yang menerpanya. Karena tidak sedikit juga yang berani menjapri atau me-mention saya di social media yang isinya mencaci maki ayah saya. Tapi ia (Ayah saya) cuma tersenyum, " Buat apa? Tidak usah lah kau baca berita-berita palsu itu," katanya.

"Alhamdulillah kalau kita difitnah, berarti orang-orang yang memfitnah itu sedang menanam ladang pahala untuk kita panen di akhirat nanti," 

Oh iya, betul juga ya. Alhamdulillah. Terima kasih untuk para pemfitnah dan para penyebar hoax atas transferan pahalanya untuk ayah saya.

Barakallahu fii umurik Papa, orang yang paling saya banggakan di dunia ini.  [Paramuda/BersamaDakwah]
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search