Top Ad unit 728 ุฃ— 90

Dua Jam yang Mengancam di Imigrasi Singapura

Suasana di Holding Room 3, setelah HP gw dibalikin, dan ruangan sudah mulai sepi.

Bagaimana rasanya jika mendapatkan perilaku tak menyenangkan dari petugas imigrasi luar negeri? Apalagi jika memiliki penampakan seperti jenggot, celana cingkrang dan berjidat hitam?



Warga Negara Indonesia Muhammad Fajr Alfath mempunyai kisah tersendiri
ketika kena random sampling dari Imigrasi Singapore, 14 Desember 2017. Diperiksa kurang lebih 2 jam.

Berikut ini ia menuturkan:

Malam sebelum keberangkatan, gw menyiapkan outfit (OOTD) untuk jalan-jalan kali ini, berkaca dari pengalaman ke Singapore sebelumnya, celana panjang joger berbahan katun, T-Shirt dan sepatu kets cocok dipake muter Singapore seharian. Tapi secara gak sengaja, kali ini semua warnanya totally black (baca: pakaiannya, bukan orangnya). Sempet kepikiran "(selain cuaca panas) bakalan masalah gak ya item semua gini?". Tapi ya udahlah, show must go on.

Bismillah. Jadilah jam 7 pagi bertolak dari terminal ferry Batam Centre (BC) menuju Harbour Front (HF), Singapore. Kesiangan satu jam dari jadwal awal, tapi karena temen lainnya udah pada niat juga, hayuk lah! Setelah satu jam melaut, akhirnya sekitar jam 9 (Sg Time), ferry sudah masuk Singapore dan siap bersandar di dermaga HF.

"Nanti begitu kapal mau bersandar, langsung buru-buru ke ruang imigrasi ya, biar ga kelamaan antri di imigrasi". Begitu isi chat yang gw ketik di grup WA khusus trip Singapore kepada tiga orang lainnya yang dibuat khusus untuk jalan-jalan kali ini. Berkaca pada pengalaman sebelumnya, karena terlalu nyantai saat turun dari ferry dan menuju antrian di ruang imigrasi HF, mengakibatkan proses stamp passport di imigrasi menjadi sekitar 2 jam lebih. Maka untuk kali ini, begitu ferry bersandar sempurna, Kami berempat langsung ngacir menuju ruangan pemeriksaan imigrasi HF.

“I’ll take Him with me” ujar salah satu petugas immigrasi kepada rekannya yang ga sengaja terdengar. "Please, this way Sir. And follow me" ujar pria berseragam biru donker berperawakan India Melayu sambil mempersilahkan gw melewati jalur "khusus" yang sudah dibukanya "spesial" buat gw, artinya gw dipersilahkan untuk keluar memisahkan diri dari arus penumpang yang bergerak menuju antrian imigrasi. Terlihat para penumpang lain belok ke kanan, sementara gw lanjut lurus keluar dari jalur antrian untuk kemudian digiring ke ruang khusus. Gak sempet pulak gw ucapkan kata perpisahan kepada tiga orang teman yang berangkat dari Batam, atau mungkin mereka sudah ikutan belok kanan mengikuti arus penumpang lain.

Setibanya di dalam ruangan yang gak terlalu besar, gw diinstruksikan untuk masuk ke dalam alat tersebut dan dari atas, samping dan belakang, keluar semacam angin diikutin bunyi "Biipp". Perkiraan gw ini adalah alat untuk mensterilkan penumpang dari kuman/bakteri.

Setelah dianggap steril, gw disuruh duduk di meja, dengan posisi duduk mirip interogasi. Officer A1 (OA1, sebut saja begitu) mulai melakukan prosedur pemeriksaan. Passpor gw diperiksa, wawancara seputar tujuan kunjungan, seperti bawa duit berapa? datang sama siapa? Kerja dimana? berapa hari di Singapore? mau jalan kemana aja? Dan terselip pertanyaan yang buat gw cukup mengejutkan karena dilontarkan oleh petugas Imigrasi, “are you Moslem?". Dengan sigap gw jawab "Yes I am". Dan selanjutnya, di depan gw OA1 memeriksa isi HP gw, setelah sebelumnya minta izin terlebih dahululu. "Apaan lagi nih, sampe periksa isi HP segala. Sebelum-sebelumnya gak begini amat, lancar-lancar aja malah", gumam dalam hati. Sesaat gw sadar kalo ini bisa jadi masalah serius. Tapi apa masalahnya? Terorisme? Really?!



Gw ga tau apa yang OA1 liat, apakah gallery foto, kontak, whatsapp, telegram, facebook, instagram, twitter atau lainnya. 2-3 menit melihat isi HP, air mukanya pun agak berubah. Benar saja, OA1 komunikasi lewat radio dan beberapa saat rekannya, Officer B1 (OB1, sebut saja begitu) bergabung ke dalam ruangan. HP gw diserahkan ke OB1 dan gantian OB1 yg sekarang periksa HP gw. Sementara OA1 mengambil selembar kertas dan pulpen. Ya, wawancara masih berlanjut ternyata.

Sebagai pembuka, OA menuliskan tiga buah nama partai di kertas, "Golkar, PDI, Demokrat", dan meminta gw menuliskan nama ketua dari masing-masing political parties tersebut. Setelah gw tulis, dia minta gw berkomentar mengenai parpol beserta ketuanya tersebut. "Ah, buat apa orang ini pengen tau My Political View?", tapi tetap gw jawab juga, sambil berusaha untuk tetap fokus karena sesekali gw melihat ke arah OB1 yang beberapa kali memotret layar HP gw pake kamera HP nya. Oh, OA1 sempat menanyakan soal Ahok, dan bagaimana pendapat gw tentangnya.

Selanjutnya, OA1 tanya "How about Organization in Indonesia, can you mention it?". Pura-pura mikir dan ga ketemu jawabannya, gw jawab "I don't know, can you be more specific?". Dia kemudian langsung nulis "FPI". Dan nanya gw tentang siapa ketuanya, pendangan gw terhadap HRS, apakah gw anggota FPI, apa gw mau bergabung dengan FPI. Ya gw jawab aja apa adanya. ๐Ÿ˜œ

Kemudian dia nulis "NU", dan kembali minta pandangan tentang organisasi ini. Kembali gw jawab sesuai fakta yang ada, kali ini pake Bahasa Inggris campur Indonesia, karena susah jelasin beginian sambil ngomong Londo! ๐Ÿ˜„

Wawancara berlanjut ke bagian bagaimana pandangan gw soal Islam, dari mana gw belajar Islam, apakah gw ikut semacam pengajian, siapa saja ustad di youtube yang sering gw dengar ceramahnya, dll. Sesekali dia googling di HP nya untuk melihat siapa ustad yang dimaksud dan menunjukan ke gw sambil bertanya "benar ini ustadnya?". Pada poin ini, gw makin yakin kalau gw kena random sampling karena penampilan gw yang berjenggot, dan mungkin pengaruh dari pakaian yang serba hitam-hitam. "Is it my appearance threatening Them? Do I look like a Terrorist?" LOL.

Setelah itu, dia bilang kalo dia dan OB1 menemukan konten di GRUP Whatsapp yang bisa menyulitkan gw untuk bisa masuk Singapore. Gw tanya, "Bisa liat gambar yang mana? Siapa tau bisa gw jelasin". OA1 bilang "We'll show you later at the office". Kemudian gw dipindahkan ke room lainnya, lebih tepatnya ke ruang kantor kayaknya, karena banyak petugas di depan laptop kayak lagi bikin BAP ke orang-orang lain yang nasibnya sama kayak gw. Disitu gw disuruh menunggu di dalam ruangan "Holding Room 3" yg agak kecil bersama sekitar 6-7 orang lainnya. Tempat penampungan bagi orang2 yang mereka anggap bermasalah.

Di ruangan ini gw liat semua orang Indonesia. Ada orang yang perawakan dan bicara cakap melayu (kayaknya asal tanjungpinang), WNI keturunan Chinese (ada yang pakaian kurang rapih, ada juga yang berpakaian dandy dan necis mirip boss besar), ada juga Ibu-ibu berhijab yang bersama anaknya. Berlama-lama di ruangan ini bikin gw mikir "kayaknya gw bakalan dipulangin ke Batam nih".

Setelah nunggu 15 menitan, gw dipanggil untuk proses wawancara selanjutnya, kali ini kayaknya Big Boss dari kantor imigrasi di HF, soalnya terlihat kalo dia yang mengambil keputusan apakah seseorang boleh masuk ke Singapore. Bapak ini (BB1, sebut saja begitu) adalah dari Ras India, umur sudah cukup senior, gak pake seragam, dan didampingi penerjemah bahasa Melayu karena dia ga bisa bahasa Melayu. Wawancara dilakukan di "Holding Room 1" dimana cuma gw doang yang ada di ruangan itu.

Skip skip, BB1 langsung to the point, sambil bawa HP gw, dia bahas soal gambar di GRUP Whatsapp (FYI, dalam grup whatsapp, setiap kiriman gambar, video dari member lain, otomatis akan tersimpan di direktori "Whatsapp/Media, Links and Docs"). Gambar yang dipermasalahkan antara lain:
Gambar korban bom,
Gambar pelaku bom bunuh diri,
Gambar bendera hitam Rasulullah,
Gambar Ust. Arifin Ilham latihan pedang,
Gambar Ust. Arifin Ilham pamer istri 4 (kalo ini gw ngarang ๐Ÿ˜ฌ).

Dia nanya, kenapa gambar-gambar ini ada di grup whatsapp gw? Awalnya dia langsung judge kalo gw yang kirim gambar-gambar ini. Dia bilang gw ga bisa masuk Singapore karena gambar-gambar ini ada di whatsapp gw. Akhirnya gw jelasin pelan-pelan alur proses tersimpannya gambar tersebut di whatsapp, bahwa itu dari anggota grup lain, bukan gw. Lagi pula gw bilang "I do not support violence. Islam means peace. I came with peace".

Kemudian juga ditanyakan, "Kalau bukan gw, trus kenapa masih disimpan/tidak dihapus?", "Ini grup WA apa sebenarnya?", "Apa aja yang dibahas di grup?", "Siapa aja member grup itu?", dst. Pelan-pelan gw jelasin. Bagusnya mereka masih mau konfirmasi dan masih bisa nerima penjelasan. Dan setelah penjelasan panjang disertai dengan pembuktian-pembuktian, dia bilang "Oke, kamu boleh masuk ke Singapore, tapi next time mungkin bakalan dicekal karena gambar-gambar ini ketauan saat diperiksa. Tidak hanya di Singapore, bisa jadi di negara lainnya juga. Baiknya gambar-gambar seperti ini dihapus sebelum mengunjungi negara lain". Gw cuma senyum dan mengangguk tanda setuju.

Pelajaran dari kejadian bagi para travelers adalah:
Prosedur pemeriksaan HP untuk mencari konten mencurigakan memang benar adanya/bukan HOAX, bahkan sudah diterapkan di negara tetangga seperti Singapore;

Bagi yang penampilannya punya ciri sunnah seperti jenggot, jidat hitam, celana gantung, akan meningkatkan potensi kena random sampling, terutama terkait Islamophobia;

Kalo niat traveling, baiknya berpakaian rapih supaya memberikan kesan yang lebih meyakinkan;

Bila dirasa perlu, bawalah dokumen pendukung seperti name tag kantor, kartu organisasi, atau apapun itu untuk lebih meyakinkan petugas imigrasi di daerah tujuan; dan

Bila terkena random sampling, ga usah panik kalo emang ga ngerasa punya salah. Tenang dalam menjawab, berikan jawaban yang clear dan konsisten, ceritakan kejadian secara runut/nyambung. [BersamaDakwah]



Dua Jam yang Mengancam di Imigrasi Singapura Reviewed by Ganda Pahlawan on 05.25 Rating: 5

Tidak ada komentar:

© Bersamadakwah.net - BedaMedia Grup

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.