Top Ad unit 728 أ— 90

Karena Sebut "Pribumi", Benarkah Anies Rasis?

PKSFoto
Pidato perdana Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Balai Kota, Senin (16/10/2017) kemarin sempat menjadi sorotan publik. Pasalnya, dalam pidato tersebut, ada penyebutkan kata 'pribumi' yang ternyata membuat risih sejumlah warganet yang kontra dengannya.

"Anies rasis," begitu sebut warganet. 

Benarkah Anies rasis karena "pribumi"? Atau warganet yang termakan laman arus utama? 

Berikut isi lengkap pidato Anies Baswedan: 

Lembar baru bagi Jakarta malam ini telah dibuka. Saudara-saudara hari ini sebuah lembar baru kembali dibuka untuk perjalanan panjang kota Jakarta. Ketika niat yang lurus telah dituntaskan, ketika ikhtiar gotong-royong dalam makna yang sesungguhnya, dan didukung dengan doa yang tanpa henti terus dipanjatkan, maka pertolongan dan ketetapan Allah SWT itu telah datang. Tidak ada yang bisa menghalangi apa yang telah ditetapkan oleh-Nya, dan tidak ada pula yang bisa mewujudkan apa yang ditolak oleh-Nya.

Warga Jakarta telah bersuara dan telah terpaut dengan satu rasa yang sama: Keadilan bagi semua. Maka dengan mengucap syukur dan memanjatkan doa kepada Allah SWT, Yang Maha Menolong dan Maha Melindungi. Alhamdulillah sebuah fase perjuangan telah terlewati

Hari ini sebuah amanat besar telah diletakkan di pundak kami berdua. Sebuah amanat yang harus dipertanggungjawabkan dunia akhirat. Hari ini adalah penanda awal perjuangan dalam menghadirkan kebaikan dalam menghadirkan keadilan yang diharapkan seluruh Rakyat Jakarta, yaitu maju kotanya, bahagia warganya.

Hari ini, saya dan bang Sandi dilantik menjadi gubernur dan wakil gubernur bukan bagi para pemilih kami saja, Tetapi bagi seluruh warga Jakarta. Kini saatnya bergandengan sebagai sesama saudara dalam satu rumah untuk memajukan kota Jakarta.

“Holong manjalak holong, holong manjalak domu,” begitu pepatah Batak mengungkapkan. Kasih sayang akan mencari kasih sayang, kasih sayang akan menciptakan persatuan. Ikatan yang kemarin sempat tercerai, mari kita ikat kembali. Mari kita rajut kembali. Mari kita kumpulkan energi yang terserak menjadi energi yang terkumpul untuk membangun kota ini bersama-sama.

Jakarta adalah tempat yang dipenuhi oleh sejarah. Setiap sudut di kota ini menyimpan lapisan kisah sejarah yang dilalui ratusan bahkan ribuan tahun. Jakarta tidak dibangun baru kemarin. Sejak era Sunda Kalapa, Jayakarta, Batavia hingga kini, Jakarta adalah kisah pergerakan peradaban manusia. Jakarta adalah melting pot. Jakarta adalah pusat berkumpulnya berbagai manusia dari seluruh Nusantara. Bukan hanya Nusantara, bahkan berkumpul dari berbagai penjuru dunia.

Di kota ini interaksi adalah bagian dari sejarahnya. Dan di kota ini pula masyarakat Betawi telah menjadi sebaik-baiknya tuan rumah bagi Jakarta.

Di kota ini, semua sejarah penting republik ditorehkan. Dua kilometer letaknya dari tempat kita berkumpul para pemuda berkumpul di Kramat Raya mengumandangkan satu tanah air satu bangsa dan satu bahasa bersama. Hanya dua kilometer dari tempat ini.

Satu kilometer dari tempat kita berkumpul, di situ para pendiri Republik, para perintis kemerdekaan berkumpul menyusun visi Republik ini. Sekarang kita sebut sebagai Gedung Pancasila. Di situ mereka merumuskan garis depan, garis besar bagaimana republic ini didirikan. Janji kemerdekaan dituliskan di tempat itu.

Tiga kilometer dari kita berkumpul, Pegangsaan Timur, di sana dikumandangkan proklamasi kemerdekaan kita. Saudara-saudara sekalian, di tanah ini semua cita-cita bangsa diungkapkan., Karena itu kita tidak boleh, di tanah ini justru janji kemerdekaan tak terlunaskan oleh wargannya.

Republik ini menjanjikan keejahteraan maka di ibukota harus hadir kesejahteraan, Republik ini menjanjikan perlindungan, maka di ibukota harus ada perlindungan, Republik ini menjanjikan mencerdaskan kehidupan bangsa maka di ibukota harus hadir ikhtiar mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dan ketika republik ini tegas-tegas mengatakan bahwa visinya adalah menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, maka insyaallah kita sama-sama tunaikan ikhtiar itu, di ibukota harus hadir keadilan sosial bagi seluruh warga Jakarta.

Dan Jakarta ini satu dari sedikit kota di Indonesa yang merasakan kolonialisme dari dekat. Penjajahan di depan mata itu di Jakarta, selama ratusan tahun. Di tempat lain penjajahan mungkin terasa jauh, tapi di Jakarta, bagi orang Jakarta, yang namanya kolonialisme itu di depan mata, dirasakan sehari-hari. Karena itu bila kita merdeka maka janji-jani itu harus terlunaskan bagi warga Jakarta.

Dulu kita semua pribumi ditindas dan dikalahkan, kini telah merdeka, kini saatnya kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Jangan sampai Jakarta ini seperti yang dituluskan dalam pepatah Madura, “Itik se atellor, ajam se ngeremmi.” Itik yang bertelur, ayam yang mengerami. Kita yang bekerja keras untuk merebut kemerdekaan, kita yang bekerja keras untuk mengusir kolonialisme

Kita semua harus merasakan manfaat kemerdekaan di ibukota ini.

Dan kita menginginkan Jakarta bisa menjadi layaknya sebuah arena aplikasi Pancasila. Jakarta bukan sekedar kota. Dia adalah ibukota. Maka di kota ini Pancasila harus mengejawantah, Pancasila harus menjadi kenyataan. Setiap silanya harus terasa dalam keseharian.

Dimulai dari hadirnya suasana ketuhanan dalam setiap sendi kehidupan kota. Indonesia bukanlah negara berdasar satu agama, namun Indonesia juga bukan sebuah negara yang alergi agama apalagi anti agama.

Ketuhanan, selayaknya menjadi landasan kehidupan warga dan kehidupan negara sebagaimana sila pertama Pancasila, Ketuhanana yang Maha Esa, Kedua, Prinsip ketuhanan ini kemudian diwujudkan pula dengan hadirnya rasa kemanusiaan dan hadirnya rasa keadilan bagi seluruh rakyat, tanpa ada yang terpinggirkan, terugikan, apalagi yang tidak dimanusiakan dalam kehidupannya.

Karena itu mari kita hadirkan Jakarta yang manusiawi Jakarta yang beradab sebagaimana prinsip Pancasila kita sila kedua, “Kemanusiaan yanga dil dan beradab.”

Perjuangan selanjutnya adalah menghadirkan persatuan dalam kehidupan kota, tidak hanya kita merayakan keragaman tapi mari kita merayakan persatuan. Sering kali kita melewatkan soal persatuan.

Ada pepatah Aceh yang bermakna, “Cilaka rumah tanpa atap, cilaka kampung tanpa guyub.” Persatuan dan keguyuban ini yang harus kita perjuangkan, dimulai dari meruntuhkan sekat-sekat yang menjadi penghalang interaksi antar komponen masyarakat terutama pemisah antara ruang bagi mereka yang berkemampuan ekonomi dan tidak.

Mari kita hadirkan Jakarta yang bersatu bagi semua, karena ruang interaksi terbuka bagi semuanya.

Dalam mewujudkan prinsip itu, mari kita kembalikan musyawarah kembali menjadi tradisi kita sebagaimana sila keempat Pancasila, yang bunyinya, “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksaan dalam permusyarawatan perwakilan.

Karena itu majelis-majelis warga akan dihidupkan kembali. Semua majelis-majelis warga akan dihidupkan. Kota ini tidak boleh hanya sekedar perintah gubernur sampai ke bawah. Dengarkan kata rakyat. Maka kita hidupkan seluruh majelis-majelis yang ada di kota ini.

Ada banyak sekali majelis, kita hidupkan semuanya. Musyawarah kota untuk menghasilkan kesepakatan dan kesepahaman. Kalau kata orang Minang “Tuah sakato,”. Dalam kesepakatan berdasar musyawarah itu terkandung tuah tentang kebermanfaatan.

Yang kelima, diujungnya, dan ini yang paling mendasar. Ini paling penting. Yang kita perjuangkan sama-sama sepanjang kampanye kemarin, adalah pelaksaaaan sila kelima yang bunyinya, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Itu yang akan kita jadikan fondasi persatuan di Jakarta

Kita jadi ingat pada saat dulu Republik ini mau dibuatk pesannya jelas, kita tidak hendak hendak membangun satu negara untuk sekelompok orang. Dan Bung Karno mengatakan demikian,”Kita hendak membangun satu negara untuk semua. Bukan untuk satu orang, bukan untuk satu golongan,bukan untuk golongan bangsawan maupun golongan orang kaya, tapi untuk semua.”

Karena itu pengambilan kebijakan di kota ini haruslah didasarkan pada kepentingan publik. Pengelolaan tanah, pemgelolaan air, pengelolaan teluk dan pengelolaan pulau, tidak boleh diletakkan atas dasar kepentingan individu.

Pengelolaan itu semua tidak boleh untuk kepentingan suatu golongan, tidak boleh untuk kepentingan satu perhimpunan, tidak boleh untuk kepentingan suatu korporasi. Tetapi itu untuk kepemtingan warga Jakarta semua. Semua untuk semua. Jakarta untuk semua, inilah semangat pembangunan yang kita letakkan sama-sama untuk Jakarta.

Gubernur dan Wakil Gubernur tentu menjadi pemimpin bagi semua dan harus menghadirkan keadilan bagi semua.

Namun jelas kami tegaskan bahwa tekad kita adalah mengutamakan pembelaan yang nyata kepada mereka yang selama ini tak mampu membela diri sendiri, mengangkat mereka yang selama ini terhambat dalam perjuangan mengangkat diri sendiri.

Bang Sandi tadi sudah mengungkapkan komitmen dan paradigma ke depan tentang rencana pembangunan kot ini, Bang Sandi sudah jabarkan bagaimana kita akan bersama-sama membangun dan mengelola kampung, mengelola jalan, sekolah, puskesmas, pasar, angkot, dan berbagai aspek kehidupan lainnya . Seperti kata Bang Sandi tadi, ini adalah satu langkah bersama ke depan, memastikan Jakarta yang lebih ramah rimpi untuk semua.

Untuk itu, izinkan kami mengajak seluruh warga, menjadikan usaha memajukan kota sebagai sebuah gotong royong, sebagai sebuah gerakan pembangunan kota ke depan. Gubernur bukanlah sekedar administrator bagi penduduk kota.

Gubernur, bukan sekadar penyedia jasa bagi warga yang jadi konsumennya. Namun kami bertekad untuk bisa melakukan lebih dari itu, kami ingin bisa bekerja bersama dengan warga Jakarta, berkolaborasi dengan warga Jakarta, sebagai perancang dan pelaku pembangunan.

Dalam pepatah Banjar dikatakan, “Salapik sakaguringan, sabantal sakalang gulu.” Satu tikar tempat tidur, satu bantal penyangga leher. Kiasan ini bermakna hubungan yang erat

antar elemen masyarakatt, saling setia dan mendukung satu sama lain. Saudara-saudara sekalian inilah Jakarta yang akan kita bangun bersama-sama lima tahun ke depan.

Selain itu, kami juga mengajak kepada seluruh elemen kepemimpinan di kota Jakarta, mulai dari jajaran pemerintah daerah, para wakil rakyat, pemimpin lembaga pertahanan, keamanan dan penegakan hukum, mari kita memiliki tekad yang sama: yaitu mari kita sama-sama hibahkan hidup kita kepada warga Jakarta, bukan sebaliknya.

Jangan berbalik menjadi menyedot dari kota dan warganya untuk dibawa pulang ke rumahnya Tapi hadirlah untuk menghibahkan waktu, tenaga pikiran, keringat untuk kemajuan kota Jakarta.

Sebuah kearifan lokal dari Minahasa mengingatkan kita, “Si tou timou tumou tou.” Manusia hidup untuk menghidupi orang lain, menjadi pembawa berkah bagi semua. Sebuah pengingat bagi semua manusia, namun terutamanya bagi para pemimpin.

Izinkan dalam kesempatan ini kita semua memastikan, kami ingin memastikan, dan saya akan ucapkan pula nanti dalam sidang paripurna DPRD.

Ada kata yang diungkapkan oleh seorang tokoh Betawi, terpatri di patungnya yang terpasang di Monas sana. “Setiap pemerintah harus mendekati kemauan rakyat. Inilah sepatutnya dan harus menjadi dasar untuk memerintah. Pemerintah yang tidak mempedulikan atau menghargakan kemauan rakyat sudah tentu tidak bisa mengambil aturan yang sesuai dengan perasaan rakyat.”

Itu adalah kalimat yang diungkapkan oleh salah satu putra terbaik Betawi Mohamad Husni Thamrin. Mohamad Husni Thamrin mengatakan itu dan kalimat itu terpatri di Monas sana. Saya bayangkan semua orang yang bekerja di kota ini, baca kalimat ini, renungkan, resapi dan laksanakan. Bagi semua yang mengatasnamakan rakyat Jakarta, ingat kata-kata Mohamad Husni Thamrin, jakankan kalimat itu. Setiap pemerintah harus mendekati kemauan rakyat.

Saudara-saudara semua, perjuangan kita di depan adalah untuk mewujudkan gagasan, kata dan karya yang selama ini telah kita tekadkan. Kita ingin lakukan tiga-tiganya, membawa gagasan, membawa kata-kata dan membawa kerja. Jadikan sebagai satu rangkaian, gagasan, kata, kerja.

Dengan begitu saudara-saudara sekalian, kita ingin Jakarta maju, Jakarta menjadi bagian dari kota modern yang diperhitungkan dunia, tetapi memiliki akar yang kuat di dalam tradisi kebudayaannya

Dengan memohon pertolongan kepada Yang Maha Memberi Pertolongan, mari kita bersama berikhtiar mewujudkan Jakarta yang maju setiap jengkalnya, yang bahagia setiap insan di dalamnya. Semoga Allah SWT membantu ikhtiar kita.

Sebelum mengakhiri pidato ini izinkan saya membacakan pantun untuk warga Jakarta.

Bekerja giat di Kali Anyar, mencuci mata di kampung Rawa, luruskan niat teguhkan ikhtiar, bangun Jakarta bahagiakan warganya.

Cuaca hangat di Ciracas, tidur pulas di Pondok Indah. Mari berkeringat bekerja keras, tulus ikhlas tunaikan amanah.

Semoga Allah SWT memudahkan ikhtiar kita, membukakan jalan-jalan yang sekarang sempit, memudahkan menemukan solusi-solusi baru, menjauhkan dari segala macam fitnah, menjadikan setiap wilayah kota ini baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, menurunkan keberkahan bagi setiap warganya. Memberikan kebahagiaan bagi setiap insan di kota ini.

Laa hawla wa laa quwwata illa billah. Tiada yang kuasa, tiada kekuatan dan daya upaya selain kehendak Allah.

Semoga ikhtiar ini selalu dimudahkah, semoga selalu bisa dituntaskan dan insyaallah keberkahan selalu diberikan kepada kita semua
[BersamaDakwah]


Karena Sebut "Pribumi", Benarkah Anies Rasis? Reviewed by Ganda Pahlawan on 11.07 Rating: 5

Tidak ada komentar:

© Bersamadakwah.net - BedaMedia Grup

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.