Top Ad unit 728 أ— 90

Bu Sri Mulyani, Koper Saya Disita Isinya Ada Baju Kotor



Seorang warganet bernama Terry Susanto komplain kepada Menteri Keungan Sri Mulyani Indrawati soal peristiwa yang dialaminya.



Begini isi suratnya:

Kepada yang terhormat Ibu Sri Mulyani.
Saya mau protest soal peraturan ibu di bea cukai, yang mengakibatkan koper saya ditahan belanja.

Jadi pada saat akhir September 2017, saya pulang dari Jepang. Saya disana beli actiion figure untuk koleksi saya pribadi. Saya membawa mainan ini 2 koper dan total belanja saya sekitar 12 juta rupiah. Waktu sebelum pergi saya sudah tau FOB yang kena bebas pajak adalah 250 USD, dan max belanja adalah 1500 USD.

Ketika turun dari pesawat, barang saya ditahan oleh bea cukai. Saya sudah menunjukan bon, dan NPWP saya. Karena dari video dan berita-2 yang beredar bon belanja harus disimpan.

Namun petugas bea cukai menahan koper saya karena harus SNI. Disini saya sudah jelaskan ke petugas barang SNI itu untuk mainan 14 tahun kebawah. Di mainan saya ada tertulis untuk 15 tahun ke atas, tidak cocok untuk 0-3 tahun karena bisa menyebabkan tersedak (tentu saja dalam bahasa Jepang).

Petugas pajak tidak mau tau dia bilang "karena peraturannya gitu". Iah saya serius dia ngomong "peraturan gitu", tidak jelas yang mana pokoknya gitu. Alhasil koper saya disegel oleh petugas bea cukai. Disana saya dijelaskan "Bapa tinggal ke kantor lalu nanti wawancara, lalu jelaskan barang ini untuk dijual atau untuk koleksi pribadi, nanti barang langsung keluar".

Lalu saya bertanya kantornya dimana? Dia memberikan amplop ini datang ke mentri keuangan. Karena hari itu sudah jam 5, jadi ya sudah saya akhirnya menginap di Jakarta.

Note : 2 koper saya ditahan semua isiinya termasuk baju kotor, dsb.

Besok pagi-2nya saya ke kantor keuangan membawa surat pengantar dari bea cukai,oleh petugas resepsionis dibawah, mereka jg bingung kenapa ke sini ? Lalu dibantu petugas dia tanya sana sini, akhirnya diketahui saya harus ke mentri perdagangan.

Datang ke mentri perdagangan saya dijelaskan, bapa harus bikin surat permohonan pengecualian barang danganan, lalu cantumkan ayat "mentri perdanganan no 87 tahun 2015 pasal 19 point f". Saya bilang dimana ada warnet untuk saya mengetik ini ? Lalu kata petugas itu diperempatan depan KFC disana ada warnet.

Saya menyebarang, warnet sudah tidak ada. Akhirnya tanya-2 ada yang bilang naek ojek saja ke menara BCA. Disana ada warnet. Akhirnya saya naek ojek kesana, selesai mengetik dan print saya bawa lagi mentri perdagangan.

Setelah diserahkan saya disuru menggu 14 hari. Dengan kesal, ya sudah saya pulang ke Bandung. Setelah menunggu 14 hari, akhirnya surat selesai. Saya cuti dari kantor dan datang ke sana, begitu saya terima surat. Tulisannya ditolak karena tidak ada airway bill.

Saya sangat terkejut, saya sudah jelaskan disurat permohonan ini adalah barang bawan penumpang. Kenapa ditanya airway bill??? Setelah tanya-2, saya disuru ke bagian import.

Waktu ttu saya datang jam 10 pagi hari Jumat, saya menunggu hingga jam 15:00 an, akhirnya bertemu dengan petugas, kemudian dijelaskan "Bapa ini salah pasal, dan harus mengajukan lagi"

Saya kaget "lah yang kasih ayat siapa, trus kenapa dibilang salah", saya khan tidak mengerti juga. Dan waktu sudah menunjukan jam 16:00an, saya minta tolong ke petugas itu untuk pengertiannya tidak mungkin saya ke menara BCA dulu, nanti bisa-2 saya Senin harus ke Jakarta lagi dari Bandung.

untuk petugas itu mau mengerti, "Bapa tunggu dibawah nanti saya bantu buatkan suratnya". Saya mengiikuti sarannya kemudian saya ditelp, surat sudah jadi, saya bawa ke TPP lagi. Kemudian menunggu 14 hari lagi.



14 hari kemudian, surat saya keluar saya bawa ke bandara Soekarno hatta terminal 2, lalu dari sana diberitau."Oh ini ke terminal kargo, emang bapa tidak tau ?" , saya jawab "tidak, malah dari awal saya disuru ke mentri keuangan". Saya naik takxi ke sana. Di sana setelah ke ruangan sebelah gudang, diterima oleh petugas lalu dibilang "Oh sudah lengkap, tp ini karena lagi sibuk belum bisa dihitung pajaknya." Saya disuru kembali  lagi 14 hari kerja, dan dikasih nomor HP TU nya.

Setiap hari saya bertanya ke petugas itu untuk permohonan surat saya gimana, namun tidak ada jawaban. Setiap hari saya bertanya terus ke no HP itu tp dari 14 hari kerja bertanya ( 3 minggu kurang 1 hari). Cuma pernah dijawab 2x "ia masih proses"
Setelah 14 hari kerja, saya penasran akhirnya ke Jakarta lagi. Waktu datang saya dipingpong-2 "Bapa ke gedung A", di gedung A. Oh ia tunggu disini ambil antrian. Tunggu 1 jam antrian, petugasnya bingung "Lah ini apa? Kenapa ke sini?". Petugas itu bingung dan tanya-2 ke yang lain, akhirnya diberitau oh ini langsung ke TPP.

Di TPP, saya mengambill surat lalu tulisannya "DITOLAK karena harus ada SNI". Saya kesal kenapa ngga ada yang kasih tau ini perlu SNI ?? Akhirnya saya ke mentri perindustrian. Disana saya diberitahu "Oh bapa harus bikin surat permohonan". Saya disana minta tolong dibantu karena saya kesulitan cari warnet, Setelah surat dibantu dibuatkan, saya antar suratnya ke TU. Dsisana diberitahu "Oh pimpinannya lagi rapat di Bandung", nanti selasa lagi bapa bisa ke sini. Kemudian saya diberi no telp kantor TU.

Hari senin saya bertanya tentang surat permohonan, lalu dijawab "OH pimpinanya lagi cuti sampai jumat. Coba minggu depan". Minggu depannya hari Kamis, akhirnya surat selesai ditanda tangan, kemudian hari Jumatnya saya ke Jakarta lagi dari Bandung.

Akhirnya surat keluar, lalu saya bawa ke bea cukai. Akhirnya juga koper saya bisa keluar setelah proses pingpong pingpong sana sini....

Total koper saya ditahan itu dari 26 Sep - 27 Nov. 2 bulan saya dipingpong.

Total pajak 6 juta. Sedangakan biaya yang diperlukan untuk perjalanan tranvel Bandung ke Jakarta sekitar 7 juta. Biaya travel lebih mahal dari pajak saya...

Akhir cerita

OK saya mengaku, saya salah karena belanja berlebihan hingga mau disangka dagang. Tapi saya tidak suka dipingpong-2 seperti ini. Saya ini dari awal berpikir "Oh ya dah, saya mau jujur ikutin aturan". Dari petugas bandara malah suruh ke mentri keuangan. Dari sana dipingpong ke mentri perdaganan 1 bulan. 2x ngajuin surat gara-2 yang pertama salah ayat, padahal siapa coba yang kasih ayat.

Yang .paling kesal petugas bea cukai lagih, yang di TU. Susah amat sie ditanya ini surat sudah beres atau belum ? lalu disuru menunggu 14 hari kerja (3 Minggu). dah gt malah ditolak, disuru  ke mentri perindustrian unuk pengecualian SNI, nunggu lagi 14 hari.

Saya ini jadi kaya petugas pos,datang ke jakarta antar surat antar kantor pemerintah, lalu pulang ke Bandung.
Yang saya ingin protest :

1. Tolong ibu bikin peraturan yang jelas. Tolong jelaskan barang segimana yang boleh, mana yang tidak ? 

2. Tolong petugas itu samakan suara, Ibu bilang perturannya adalah A B C. Yang bawah ngertinya Z, setiap mengurus baru ngomong A , datang lagi B, datang lagi C.

3. Saya yang bepikir "oh ya sudah saya mau mengikuti aturan", malah jadi kecewa! mendingan waktu dulu jaman suap-2an tinggal saya bayar sekian juta. Sudah selesai tidak usah buang waktu tenaga , dan beban pikiran juga takut ilang juga.
Harapan saya :

Kalau saya kelebihan belanja, ya sudah saya bayar saja kelbihan pajaknya.  Jgn ditahan koper saya,

btw
Lalu ada yang lucu juga sie, dari peraturan mentri perdagangan disana ditulis, maina yang beredar untuk dagang wajib SNI. Sedangkan saya wkt ke mentri perdangan dan mentri perindustrian sudah membuat pernyataan kalau ini tidak untuk diperdangankan.
Jadi mestinya surat dari mentri perdangan saja cukup, tidak perlu bikin pengecualian SNI. Karena bukan barang dagang. Tp dari mentri perindustrian dapat surat pengecualan SNI.
Lalu oleh oleh bea cukai, pajak saya tidak dikurangin 250 USD jg. Dianggap barang dagang. Lucu ya jadi saya disuru bikin surat yang saling kontradiksi, lalu diapprove lagi.
Sekali lagi .. Tolong jangan tahan-2 barang dibea cukai, tolong kalau kelebihan belanja... Ya sudah bayar pajak saja, jgn tahan koper...

Terima Kasih



Bu Sri Mulyani, Koper Saya Disita Isinya Ada Baju Kotor Reviewed by Ganda Pahlawan on 21.28 Rating: 5

Tidak ada komentar:

© Bersamadakwah.net - BedaMedia Grup

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.